Opini dan Kasus Tanah Longsor sekitar Bogor dan Jawa Timur




Keretakan tanah mengancam keselamatan warga di Ciamis, Jawa barat dan di Ponorogo, Jawa Timur   


Liputan6.com, Ciamis Sejak 1 minggu terakhir, retakan demi retakan muncul pada hunian warga di daerah Cikoneng, Ciamis, Jawa Barat. Hingga kini, sedikitnya 41 rumah dan 2 mesjid retak-retak.

Seperti ditayangkan Liputan 6 Petang SCTV, Jumat (21/3/2014), para warga pun takut rumah mereka sewaktu-waktu akan runtuh. Terlebih saat malam hari beberapa warga mengosongkan rumah dan bersiap untuk mengungsi jika retakan rumah semakin parah. Pergerakan tanah terjadi setelah hujan yang mengguyur.

Tanah retak juga terjadi di Desa Ilo-ilo, Slahung, Ponorogo, Jawa Timur. Kebun seorang warga ambles hingga 50 cm. Keretakan tanah mulai merambat ke jalan desa hingga ke rumah-rumah warga.

Keretakan tanah dikhawatirkan akan meluas. Hal itu dikarenakan curah hujan masih tinggi dan letak desa yang berada di perbukitan. Sebagian warga pun terpaksa mengungsi.

Tanah longsor di Desa Cibadak, Kabupaten Bogor.

Cuaca ekstrem yang melanda sejak awal tahun 2014 membuat sebagian wilayah Bogor dilanda bencana alam seperti longsor dan banjir. Wakil Bupati Bogor Nurhayanti mengatakan dari 40 kecamatan, terdapat 29 kecamatan yang rawan bencana di Kabupaten Bogor.

Dari semua kecamatan itu, lanjut Nurhayanti, ada 136 titik yang rawan bencana. Ia juga bencana yang sering terjadi adalah banjir dan longsor. Serta yang terparah merupakan tanah geser yang terjadi di Kampung Cigombong, Desa Cibadak Kecamatan Sukamakmur Kabupaten Bogor pada 4 hari yang lalu.

"Saya sudah meninjau langsung ke sana. Untuk penanganan tanggap darurat bencana sudah dilakukan. Kemudian untuk kebutuhan dasar dari yang terkena bencana sudah dilaksanakan," ungkapnya kepada liputan6.com, (27/1/14).

Dalam waktu dekat, kata dia, pihaknya akan menindaklanjuti untuk menanggulangi bencana tanah geser di sana. Malah sekarang, alat-alat berat sudah turun ke lokasi bencana untuk melakukan penataan.

"Kita masih menunggu hasil kajian dari ESDM dan Badan Vulkanologi dan Mitigasi Bencana yang terus meneliti struktur tanahnya," ujar Nurhayanti.

Pihaknya juga sudah melakukan evaluasi untuk membangun hunian sementara atau huntara untuk 136 rumah yang diperuntukkan bagi para warga yang menjadi korban tanah geser. Huntara ini akan dibuat 1,5 kilometer dari tempat kejadian. "Yang terpenting adalah seluruh penduduk sudah di evakuasi ke tempat yang aman," pungkasnya. 

=========================================================================

Berdasarkan dari dua kasus di atas, ada beberapa opini yang dapat disampaikan. Dilihat dari kondisi saat ini, Indonesia seperti digempur habis-habisan oleh bencana alam dimulai dari awal tahun 2014 hingga pertengahan bulan Maret ini. Banjir, hujan deras, tanah longsor semua silih berganti. Hujan di awal tahun yang cukup luar biasa intensitasnya, tidak hanya menyebabkan genangan air yang membukit hingga seatap rumah, melainkan longsor serta pergerakan tanah yang diakibatkan terkikisnya permukaan tanah oleh air hujan.

Intensitas hujan yang cukup besar bukan menjadi alasan utama terjadinya bencana alam ini, faktor manusia sebagai pengguna alam ini juga patut dijadikan tanda tanya besar, seperti apa kita menjaga alam ini? Penebangan hutan secara liar dengan menyuarakan pembangunan dan pengembangan oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab sebagai alasan paling riskan terjadi, eksploitasi sumber daya alam oleh manusia yang di luar batas kemampuan alam dalam memberikan kekayaannya kepada manusia, dan banyak hal lainnya. Menjaga alam bukan lah tanggung jawab dari pemerintah ataupun instansi instansi terkait saja, tetapi juga menjadi tanggung jawa masyarakat.

Sumber Terkait Artikel Ini:
These icons link to social bookmarking sites where readers can share and discover new web pages.
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Mixx
  • Google
  • Furl
  • Reddit
  • Spurl
  • StumbleUpon
  • Technorati
Reactions: 

Leave a comment